Mahfud: Normal baru bukan semata penghampiran ekonomi

Posted by on May 31, 2020


Jakarta (ANTARA) – Menteri Koordinator Bidang Politik Norma dan Keamanan Mahfud MD menegaskan bahwa penerapan era normal hangat bukan semata dilakukan dengan ancangan ekonomi, tetapi tetap mendahulukan pendekatan kesehatan.

“Tujuan negara itu membangun kesejahteraan. Kesejahteraan itu indikatornya dalam pembangunan manusia kan tersedia tiga, ” katanya, di Jakarta, Sabtu.

Indikator mula-mula, katanya, adalah kesehatan yang jalan. Kedua, ekonominya baik, kemudian ketiga adalah pendidikan yang baik.

Hal tersebut disampaikannya era seminar virtual Forum Rektor Sekolah tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) dengan dihadiri oleh para rektor PTKIN dari berbagai wilayah di Nusantara dengan tema  “Isu-isu Nasional dalam Rra COVID-19”.

Sebab sebab itu, kata dia, berbicara era normal baru tidak bicara soal pendekatan ekonomi semata, tetapi yang didahulukan adalah bagaimana protokol kesehatan menurut standar WHO  terlaksana.

“Jadi, misalnya dalam sekolah Bapak, itu akan diatur. Nanti harus pakai masker, dengan menyediakan masker siapa, tempat cuci tangan ada di sudut mana saja? Itu akan diatur seluruh. Kemudian jarak, tempat duduk belajar dan sebagainya, nanti pasti mau diatur semua. Sehingga kita tidak pertimbangan ekonomi semata-mata, ” logat Mahfud, mencontohkan.

Menerjang perangkat hukum untuk penerapan kehidupan normal baru, kata dia, baru saja keluar sekitar seminggu berarakan Peraturan Menteri Kesehatan yang mengatur standar protokol di berbagai zona.

“Pertama, dulu Peraturan Menteri Kesehatan tentang PSBB. Dengan baru saja keluar seminggu yang lalu itu Peraturan Menteri Kesehatan tubuh tentang standar protokol di berbagai sektor. Kalau di industri tersebut standar kesehatan, kalau di pejabat pemerintah begini, kalau di kepala begini, kalau di warung ini, kalau di pabrik ini. Sudah dibuat semua standarnya, ” katanya.

Mengaji juga: Mahfud MD: “new normal” masih wacana

Selain itu, mantan Pemimpin Mahkamah Konstitusi itu, pemerintah saat ini juga sudah mampu menilai tingkat penularan virus corona pada setiap daerah menggunakan pendekatan keilmuan, yakni Ro dan Rt.

Baca juga: Mahfud MD jelaskan alasan mal dan bandara tetap boleh sibak

Ro merupakan indeks rata-rata orang yang akan ditularkan oleh satu karakter yang terinfeksi virus, dengan evaluasi WHO Ro global saat itu antara 1, 4 sampai 2, 5.

Baca juga: Anggota DPR: Menkopolhukam bangun kesadaran jalani kehidupan normal

Tatkala Rt merupakan indeks awal transmisi virus corona sebelum pemerintah melangsungkan berbagai langkah intervensi untuk menekan penyebaran.

“Kita telah bisa mengukur semua. Satu karakter menulari dua, tiga, itu sudah bisa diukur ‘scientific’-nya. Itu tersedia istilah Rt ada istilah Ro. Kita setiap minggu akan meng- update . Sudah kita ukur semua, ” katanya.

Seminar virtual tersebut diikuti jajaran rektor, antara lain Rektor UIN Banten, UIN Palembang, UIN Bandung, UIN Banjarmasin, UIN Lampung, IAIN Surakarta, UIN Makassar, IAIN Papua, UIN Padangsidempuan, dan IAIN Jember.

Pewarta: Zuhdiar Laeis
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © KURUN 2020