Menkes: Eliminasi penyakit menular diselesaikan bersamaan COVID-19

Posted by on July 28, 2021


Jakarta (ANTARA) – Gajah Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengemukakan program eliminasi penularan penyakit HIV, sifilis, hepatitis dan malaria perlu diselesaikan secara bersamaan pada tengah upaya penanggulangan pandemi COVID-19.

“Mudah-mudahan serupa kita menghadapi COVID-19 itu, sambil kita membangun infrastruktur sistem yang baik, kita benar-benar bisa juga menyelenggarakan eliminasi terhadap penyakit bagaikan malaria, hepatitis, sifilis serta HIV, ” kata Tabiat Gunadi Sadikin saat terlihat secara virtual dalam acara puncak Hari Hepatitis Sedunia ke-12 Tahun 2021 yang dipantau secara virtual dari Jakarta, Rabu.

Budi mengatakan diperlukan kewajiban seluruh pihak untuk menyelesaikan persoalan penyakit menular dalam tengah masyarakat.

Target tersebut di antaranya HIV, sifilis dan hepatitis atau yang biasa dikenal sebagai triple eliminasi dalam ibu ke anak yang ditargetkan tercapai pada 2022. Sedangkan eliminasi Hepatitis B dan C ditargetkan makbul pada 2030.

Baca serupa: Wamenkes: Asma tidak bisa disembuhkan namun dapat dikendalikan

Baca juga: Dr Boyke: Sunat dewasa kurangi efek tertular penyakit menular

Selain itu, Tabiat juga mengingatkan pentingnya penerimaan target eliminasi malaria di 2030 di Indonesia. “Jadi saya rasa banyak perintah yang harus kita kerjakan. Kita lihat negara-negara asing sudah bisa melakukan itu, ” katanya.

Budi mengakui bahwa kegiatan pemerintah bersama pihak terpaut dalam program vaksinasi COVID-19 telah mengakibatkan penurunan vaksinasi pada penyakit lainnya.

“Tapi saya mau memastikan bahwa kita tak boleh mengabaikan itu, karena apa yang kita kerjakan sangat menentukan 10 sampai 15 tahun ke depan, ” katanya.

Budi mengatakan selain vaksinasi COVID-19, Kemenkes kembali menggalakkan pengawasan secara ketat pemberian vaksin selain program penanganan COVID-19.

“Mulai di bulan Agustus ini, ke depan kita juga akan memonitor secara saksama vaksinasi lainnya termasuk serupa vaksinasi atau imunisasi hepatitis yang akan dilakukan di dalam bayi-bayi kita, ” katanya.

Ia mengutarakan Kemenkes juga perlu mengambil bahwa tindakan promotif serta preventif terhadap risiko aib menular, salah satunya mampu dilakukan dalam bentuk deteksi dini terhadap ibu dengan hamil maupun juga terhadap populasi yang berisiko terkena hepatitis B atau hepatitis C.

“Saya juga baru mengetahui bahwa tenaga kesehatan memiliki risiko terpapar hepatitis. Jadi kita akan memastikan bahwa seluruh tenaga kesehatan itu kita berikan perlindungan dan juga selalu diawasi dengan ketat agar kita bisa deteksi lebih dini, ” katanya.

Menurut Sifat, penanganan terhadap penyakit menular seperti hepatitis, HIV, COVID-19 perlu diintensifkan pengendaliannya pada sisi hulu karena bakal sangat menentukan terhadap beratnya tekanan di hilir atau di rumah sakit.

“Kita akan jauh hidup lebih enak kalau kita disiplin, di hulu kita melakukan testing & penelusuran (tracing) yang bertambah ketat. Kita melakukan deteksi dini di hulu, kita melakukan pengobatan (treatment) dalam hulu dibandingkan kita melengahkan itu kemudian kalau datang terkena sehingga harus menanganinya di sisi hilir, ” kata Budi.

Seluruh tanggung jawab tersebut, kata Budi, membutuhkan kegiatan keras dan juga sokongan dari seluruh masyarakat. “Tidak mungkin kami bisa melakukan ini sendiri dan beta yakin kalau kita beroperasi bersama-sama secara produktif menggalang seluruh kemampuan yang kita miliki masing-masing, maka haluan mulia itu akan makbul, ” katanya. *

Menangkap juga: BPPT kembangkan bentuk informasi zoonosis di Nusantara

Baca juga: Epidemiologi: Polio penyakit menular yang mampu dieradikasi

Pewarta: Andi Firdaus
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021