Minyak naik dipicu pasokan yang ketat, Brent dekati 80 dolar per barel

Posted by on September 28, 2021


Kendala pasokan GANDAR akan terus memberikan sisi positif pada harga patra, karena pemadaman terkait badai Ida masih akan mengajak pasokan AS pada kuartal pertama 2022

New York (ANTARA) – Nilai minyak naik untuk hari kelima berturut-turut pada akhir perdagangan Senin (Selasa pagi WIB), dengan Brent berharta di level tertinggi sejak Oktober 2018 dan menuju 80 dolar AS bohlam barel, karena investor kacau tentang pasokan yang bertambah ketat di tengah meningkatnya permintaan di beberapa arah dunia.

Minyak kasar berjangka Brent untuk pengiriman November bertambah 1, 44 dolar AS atau 1, 8 persen, menjadi menetap di 79, 53 dolar AS per barel, setelah membukukan kenaikan tiga minggu berturut-turut.

Minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS buat pengiriman November terangkat 1, 47 dolar AS ataupun 2, 0 persen, menjadi ditutup di 75, 45 dolar AS per barel, tertinggi sejak Juli, setelah naik selama lima minggu berturut-turut.

Goldman Sachs menaikkan perkiraan simpulan tahun sebesar 10 dolar AS untuk minyak mentah Brent menjadi 90 dolar AS per barel. Sediaan global telah mengetat sebab pemulihan cepat permintaan target bakar dari merebaknya varian Delta dari virus corona serta Badai Ida dengan menghantam produksi AS.

“Sementara kami sudah lama mempertahankan pandangan minyak bullish , defisit pasokan-permintaan global saat ini lebih besar daripada yang kami harapkan, secara pemulihan permintaan global lantaran dampak Delta bahkan bertambah cepat dari perkiraan kami di atas konsensus & dengan pasokan global sedang kurang dari perkiraan di bawah konsensus kami, ” kata Goldman.

Terperangkap oleh rebound seruan, anggota Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dan sekutu mereka, yang dikenal sebagai OPEC+, mengalami kesulitan meningkatkan produksi karena kurangnya investasi ataupun penundaan pemeliharaan akibat pandemi.

“Kenaikan kehormatan minyak terus berlanjut melampaui apa yang sebagian besar pedagang perkirakan bullish dan diimpikan beberapa bulan cerai-berai, dan Brent meluncur menuju ambang batas 80 dolar AS per barel menggambarkan pasar minyak mentah dengan sangat ketat, ” logat Louise Dickson, analis pasar minyak senior di Rystad Energi.

“Kendala pasokan AS akan terus memberikan sisi positif di harga minyak, karena pemadaman terkait badai Ida sedang akan memengaruhi pasokan AS pada kuartal pertama 2022. ”

Suruhan minyak global diperkirakan akan mencapai tingkat pra-pandemi dalam awal tahun depan sebab ekonomi pulih, meskipun kapasitas penyulingan cadangan dapat menyengsarakan prospek, kata produsen serta pedagang pada konferensi industri.

Permintaan global diperkirakan meningkat menjadi 100 juta barel per keadaan pada akhir 2021 atau pada kuartal pertama 2022, kata Presiden Hess Corp, Greg Hill. Dunia menggunakan 99, 7 juta barel per hari minyak dalam 2019, menurut IEA, sebelum pandemi COVID-19 menghantam kesibukan ekonomi dan permintaan target bakar.

Dalam India, impor minyak mencapai puncak tiga bulan pada Agustus, rebound dari posisi terendah hampir satu tahun yang disentuh pada Juli, karena penyulingan di importir minyak mentah terbesar ke-2 dunia itu menimbun buat mengantisipasi permintaan yang bertambah tinggi.

Duli Dhabi National Oil Company (ADNOC) telah merencanakan buat memasok volume penuh dari semua kadar minyak kasar ke pelanggan berjangka dalam Asia pada Desember, beberapa sumber yang mengetahui masalah tersebut mengatakan pada Senin (27/9).

Itu akan menjadi pertama kalinya sejak jatuhnya harga patra pada kuartal kedua tahun lalu ketika pandemi COVID-19 menghancurkan permintaan bahwa ADNOC tidak menerapkan pemotongan sediaan, kata mereka.

Penerjemah: Apep Suhendar
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021