Nadiem tegaskan dana BOS diskresi kepala sekolah

Posted by on November 11, 2020


Merugikan sekali untuk daerah 3T jika disamakan ongkos per anaknya

Jakarta (ANTARA) – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Anwar Makarim mengisbatkan bahwa pengelolaan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) merupakan diskresi ataupun keputusan kepala sekolah.
     
“Dana BOS sudah dimerdekakan dan diberikan kewenangannya kepada kepala sekolah, ” perkataan Nadiem dalam kunjungannya ke sebesar sekolah di Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Rabu.

Kepala sekolah diperbolehkan untuk menggunakan dana BOS baik untuk kesejahteraan guru honorer maupun untuk mengambil kuota dan juga membeli perangkat yang dipinjamkan ke siswa untuk mendukung pendidikan jarak jauh (PJJ).

Dalam kesempatan tersebut, dia juga menyampaikan bahwa pemerintah menganggarkan dana sebesar Rp3 triliun yang diperuntukkan untuk tambahan uang BOS untuk daerah tertinggal.

“Selama ini dana PEJABAT yang diterima sama semuanya. Merugikan sekali bagi daerah 3T bila disamakan biaya per anaknya. Real di daerah 3T itu kos tukang lebih mahal, barang-barang serupa lebih mahal, ” tambah dia.

Membaca juga: Kemendikbud naikkan nilai pemberian BOS di daerah 3T pada 2021

Baca juga: Kemendikbud dorong pengamalan Merdeka Belajar saat pandemi COVID-19

Nadiem berharap persediaan BOS tersebut dapat dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Makin saat ini, dana BOS tersebut langsung masuk ke rekening madrasah.

Sebelumnya perhitungan berdasarkan jumlah murid dan biaya bola lampu siswa juga disamakan. Metode perkiraan dengan berdasarkan jumlah murid tersebut, kata Nadiem, terlihat adil. Kenyataannya di lapangan yang terjadi ketidakadilan, terutama pada sekolah yang muridnya sedikit dan sebagian besar berkecukupan di daerah tertinggal, terdepan serta terluar (3T).

Sekolah di daerah 3T karena mempunyai murid jadi dirugikan, karena mereka juga harus mengelola sekolah secara besaran dana BOS yang mungil.

Nadiem menambahkan perhitungan dengan metode sebelumnya itu, mudarat sekolah yang jumlahnya muridnya kecil dan berada di daerah 3T.

Sementara, bagi sekolah yang jumlah muridnya besar akan diuntungkan karena dapat menikmati economic of skill dan bisa memiliki instrumen dan prasarana yang lengkap.

“Ke depannya, kami mau mengubah cara perhitungan BOS. Tak hanya berdasarkan jumlah peserta asuh, tetapi ada Indeks Kemahalan Wujud (IKK) dari Badan Pusat Statistik, ” kata dia.

Melalui perubahan perhitungan dana ATASAN tersebut, Nadiem menjamin tidak mau ada sekolah yang dana BOS-nya turun. Justru untuk sekolah dengan berada di daerah 3T serta jumlah murid sedikit, dana ATASAN yang diterima akan meningkat.

Baca juga: Nadiem Makarim: Kepsek berwenang atur peruntukkan dana BOS

Baca juga: Nadiem ubah metode perhitungan dana ATASAN pada 2021

Pewarta: Indriani
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2020