Silahturahmi tak terbatas ruang dan masa rayakan Idul Fitri

Posted by on May 24, 2020


Dalam saat-saat seperti ini, semua karakter makin terhubung dalam koneksi online. Lewat virtual, mereka saling mengutarakan Selamat Idul Fitri,

Jakarta (ANTARA) – Ada yang berbeda dengan perayaan Idul Fitri pada tahun 2020 dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Biasanya menjelang Idul Fitri, suasana jalanan padat merayap karena mudik, toko perbelanjaan di mana-mana buka dan selalu dipadati pengunjung yang berbelanja untuk keperluan memuliakan Idul Fitri yang dinanti-nanti, termasuk membeli baju baru.

Tak hanya itu, di tahun-tahun lalu, masyarakat menggemakan sorak sorai kemenangan di mana-mana usai melaksanakan puasa. Jalanan penuh dengan semarak Idul Fitri. Takbir bergema pada jalan-jalan. Bahkan di malam perayaan kemenangan setelah berpuasa satu kamar, ada arak-arakan, konvoi di jalanan, takbir bersahut-sahutan. Semua merayakan malam takbiran dengan penuh sorak keceriaan.

Namun, di Hari Raya Idul Fitri 1441 Hijriah di tahun 2020 ini, kesan dan suasana tersebut tidak sepenuhnya tercipta. Orang-orang tidak turun berkerumun di jalanan mengumandangkan sorak-sorai kemajuan dan merayakan malam takbiran secara konvoi. Hal itu dikarenakan pandemi COVID-19.

Di sedang pandemi ini, mobilitas orang & barang terbatas demi mencegah bertambahnya kasus terinfeksi COVID-19. COVID-19 adalah suatu penyakit yang disebabkan virus SARS-CoV-2 dan menyebar dengan murni dan cepat, di mana belum ada vaksin dan obatnya had sekarang.

Untuk menghalangi terjadinya penyebaran COVID-19, masyarakat dilarang berkerumun. Pemerintah juga melarang warga untuk mudik.

Baca juga: Menaker ajak warga gunakan teknologi untuk persahabatan persaudaraan Lebaran aman

Di tahun-tahun sebelumnya, umat Muslim melakukan shalat Idul Fitri bersama-sama di masjid bahkan datang ke jalanan. Namun, kali ini beda adanya. Pemerintah dan lembaga keagamaan telah mengimbau masyarakat buat shalat Idul Fitri di vila masing-masing untuk menghindari kerumunan. Di mana ada banyak orang membentuk kerumunan atau keramaian, di danau juga ada potensi penularan COVID-19.

Meskipun demikian, masih ada warga yang menyelenggarakan shalat Idul Fitri berjamaah di sebesar tempat tapi dalam jumlah dengan terbatas karena jaga jarak kudu tetap dilakukan.

Di Kelurahan Paseban, Jakarta Pusat, ada sejumlah warga melakukan shalat Idul Fitri 1 Syawal 1441 Hijriah bersama, namun dengan mematuhi protokol COVID-19 di antaranya shalat berjarak, mencantumkan masker, tidak bersalam-salaman, tidak berkerumun serta membawa koran dan sajadah masing-masing.

Namun, shalat bersama itu hanya bisa dilakukan segelintir orang, sementara sebagian tinggi masyarakat melakukan shalat Idul Fitri di rumah masing-masing.

Syahrul seorang warga di Kelurahan Paseban, Jakarta Pusat yang piawai berjualan air galon kemasan dan gas elpiji 3 kg melakukan shalat idul fitri bersama suku di rumah. Awalnya dia ngerasa shalat kurang afdal karena tidak bisa shalat berjamaah di langgar.

Namun, dia melakoni lebih baik tidak melakukan kejadian yang lebih banyak mudarat ketimbang manfaatnya.

Baca juga: Lebaran di tengah pandemi, MPR: Ambil hikmah perkuat kesetiakawanan

Oleh karena itu, dia mengajak bersama istri dan anak mengabulkan shalat Idul Fitri di rumah demi kemaslahatan banyak orang. Situasi itu juga dilakukan sesuai secara tuntunan ajaran agama dan pedoman pemerintah.

“Lebih tertib menghindari tindakan yang membahayakan suku, ” ujar Syahrul kepada ANTARA, Jakarta, Minggu.

Benar tidak ada seorang pun dengan menghendaki berada dalam kondisi serupa ini di perayaan Idul Fitri. Meski ingin sekali berkumpul bersama, tapi semua orang harus membekukan diri agar tidak menambah total yang terinfeksi COVID-19.

Syahrul menuturkan bagaimana pun bentuk saat ini, harus tetap bersyukur agar hati terasa lapang dan ada damai.

Dia mengatakan semua pasti berdoa serta berharap agar pandemi ini berakhir.

Begitu juga Dina yang biasanya pulang ke Jawa Tengah untuk berkumpul bersama keluarga di Hari Raya Idul Fitri. Namun, tahun ini dia memilah untuk tidak mudik.

Dina yang bekerja di lupa satu rumah sakit swasta dalam Jakarta Pusat menuturkan memang berat Lebaran tahun ini karena tak bisa merayakannya bersama keluarga. Tidak bisa shalat Idul Fitri berhubungan.

“Tahun ini sungguh tidak mudik karena COVID-19, ” ujarnya.

Baca juga: Menag: Pandemi COVID-19 jangan kurangi kegembiraan rayakan Idul Fitri

Bagi Dina, kondisi ini dasar tak terelakkan. Tidak ada alternatif lain selain merayakan Idul Fitri sendiri di daerah rantau & jauh dari sanak keluarga.

Dia memahami jika memaksakan diri mudik, potensi penularan COVID-19 bisa terjadi selama perjalanan. Yang paling dia khawatirkan adalah membawa penyakit ke rumah dan alhasil menularkan ke keluarga dan orang-orang di sekitarnya.

Tempat harus menahan keinginan untuk mudik demi melindungi orang-orang yang dikasihi di kampung halaman.

“Yang penting semua sehat, ” tutur Dina.

Dina mengapresiasi mereka yang tidak mudik sehingga merayakan Idul Fitri jauh dari sanak keluarga demi positif mengatasi pandemik COVID-19 di Negara.

Meski jauh sejak keluarga tercinta, namun Dina langgeng dapat bersilahturahmi dengan mereka dengan virtual. Sejak pagi, Dina sudah mengobrol dengan keluarga dan orang-orang terdekatnya lewat “online” (dalam jaringan).

Dia berharap wabah COVID-19 segera berlalu sehingga keadaan bisa kembali normal dan mampu berkumpul bersama keluarga.

Selain shalat Idul Fitri, lazimnya orang-orang akan berkunjung ke panti sanak saudara dan orang-orang terdekat untuk bersilahturahmi dan bertatap muka langsung.

Tapi secara kondisi yang tidak memungkinkan saat ini, maka mereka terpaksa tidak bisa mengunjungi rumah sanak saudara yang jauh.

Baca juga: Menko PMK Lebaran di kediaman, shalat Id di halaman belakang rumah

Sementara, untuk yang tinggal dalam satu kompleks atau gang, mereka bersilahturahmi secara tetangganya dan saling mengucapkan “Selamat Lebaran” dan “maaf lahir serta batin”.

Meski dengan fisik tidak dapat berkumpul, tetapi tali silahturahmi tetap terjaga. Awak tetap bisa berkomunikasi, bercanda tawa serta menyampaikan kerinduan secara “online”.

Lebaran kali tersebut diisi dengan silahturahmi virtual dengan sanak saudara yang jauh di sana. Meski terpisah secara fisik, namun tetap terasa dekat pada hati.

Di saat-saat seperti ini, semua orang bahkan terhubung dalam koneksi online. Lewat virtual, mereka saling mengucapkan Aman Idul Fitri, menyampaikan harapan dan doa di hari yang penuh kemenangan ini. Berkah di hari yang fitri kiranya melingkupi semesta umat manusia di bumi.

Satu doa yang seluruh masyarakat Indonesia panjatkan adalah cepat teratasinya badai COVID-19 ini, agar bisa kembali hidup normal, berinteraksi sosial dan melakukan aktivitas ekonomi seperti dulu.

Baca juga: Menko PMK: Prediksi kasus COVID-19 naik keterlaluan tidak terbukti

Oleh Martha Herlinawati S
Editor: Rolex Malaha
COPYRIGHT © ANTARA 2020