Sri Mulyani ibaratkan seperti sulap masa tangani dampak COVID-19

Posted by on June 19, 2020


Ini cara berpikir kalau istilahnya juggling (sulap) dalam bahasa Inggris atau kita harus menangani berbagai kejadian dalam satu waktu yang sesuai

Jakarta (ANTARA) – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengandaikan seperti melakukan sulap ketika mewujudkan kebijakan penanganan dampak pandemi COVID-19 yang memberikan pengaruh terhadap seluruh sektor baik kesehatan, sosial, ekonomi dan keuangan.

“Ini cara berpikir kalau istilahnya juggling (sulap) di bahasa Inggris atau kita kudu menangani berbagai hal dalam satu periode yang sama, ” katanya ketika berbicara dalam  Townhall Meeting Kementerian Keuangan di Jakarta, Jumat.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu mengatakan jadi pengelola keuangan negara, jajaran Departemen Keuangan harus merespons cepat buah virus corona. Salah satunya masa mengubah instrumen keuangan akibat COVID-19 yang dilakukan dalam hitungan minggu.

Biasanya, lanjut tempat, APBN disusun dalam kurun waktu yang panjang delapan hingga sembilan bulan mulai presentasi di kabinet, konsultasi ke daerah, beberapa kala pembahasan di DPR kemudian Presiden menyampaikan nota keuangan hingga APBN menjadi undang-undang.

Belum lagi pembatasan sosial berskala tinggi (PSBB) yang di satu bagian untuk menekan penyebaran COVID-19 tetapi di sisi lain memberikan buah kepada kehidupan masyarakat yang selalu harus cepat ditangani.

Sri Mulyani menyebut wabah corona ini sebagai badai yang lengkap mengancam kehidupan dan nyawa manusia dan mengganggu perekonomian seluruh negeri di dunia.

“Semuanya diformulasikan dalam waktu yang luar biasa sangat singkat dalam status kedaruratan dan kegentingan karena dengan terancam adalah nyawa manusia, ” katanya yang disiarkan dalam saluran Youtube Kemenkeu.

Perekonomian Indonesia, lanjut dia, pada triwulan pertama tahun ini meski lahir positif 2, 97 persen tetapi angka itu merosot drastis lantaran rata-rata kisaran lima persen.

Pertumbuhan ekonomi pada triwulan kedua tahun ini pun, tinggi dia, diproyeksikan negatif hingga minus 3, 8 persen akibat efek wabah virus corona jenis segar.

Pada saat yang bersamaan, Kemenkeu juga harus cepat mencermati dinamika dalam penganggaran, salah satunya melalui dua kali revisi APBN dengan defisit yang merayap menjadi 6, 34 persen sehingga membuat sibuk “dapur” pengelola uang negara ini.

Dia juga berpesan kepada para pegawai di Kementerian Keuangan menjadikan tantangan tersebut sebagai kesempatan yang bersejarah dalam merespons kebijakan saat menghadapi keadaan darurat seperti pandemi virus corona ini.

“Jadi dapur kita begitu sangat sibuknya. Saya ingin seluruh jajaran Kementerian Keuangan bisa melihat, merasakan koneksi terhadap degup yang luar normal ini, ” katanya.

Baca juga: Insentif pajak dinilai efektif ringankan WP terdampak COVID-19
Baca selalu: Sri Mulyani: Dana pemulihan ekonomi nasional capai Rp641, 17 triliun
Baca juga: Pemerintah perpanjang bansos untuk COVID-19 hingga Desember 2020

 

Pewarta: Dewa Ketut Sudiarta Wiguna
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2020